advertisement

Budak seks bos 3

Rabu, Mei 10th, 2023 - Cerita Sex

Keesokan harinya, ternyata aku bangun cukup siang. Sudah jelas aku terlambat datang ke kantor. Buru-buru aku mandi dan berpakaian dan setelah siap aku turun ke ruang bawah. Ketika melewati ruang TV aku melihat dari belakang Kisno, Amir dan Sudin duduk di sofa sambil merokok dan menonton TV. Aku tidak melihat istriku, oleh karenanya aku bergegas menghampiri mereka di ruang TV. Ternyata setelah dekat dengan tempat Kisno, Amir dan Sudin duduk, aku melihat istriku sedang duduk bersimpuh setengah berbaring di atas karpet sambil menjilati jari-jari kaki Kisno, Amir dan Sudin. Di vagina istriku tertancap sebuah mentimun besar dan di lubang anusnya tertancap sebuah pisang ambon yang belum dikupas.
Melihat aku datang dan sudah siap dengan pakaian kantor, Kisno berkata “Pak, mau ke kantor ya, saya nebeng ya pak, tadi pak Sanjaya menelepon dan memerintahkan saya segera ke kantor.
Aku hanya mengangguk dan memerintahkan Amir untuk segera menyiapkan mobil dan mengantarku ke kantor. Pada mulanya Amir terlihat tidak mau menuruti perintahku, tapi dengan satu pelototan tajam dari mataku, Amir segera mengerti dan menuruti perintahku. Sudin yang melihat Amir pontang-panting mengenakan bajunya dan lari ke garasi mobil hanya tertawa kecil sambil dengan kaki kirinya mengarahkan kepala istriku untuk menjilati jari-jari kaki kanannya. Melihat tingkah Sudin aku hanya diam saja mengacuhkan karena aku melihat Riyani juga tidak protes dan menerima perlakuan pembantu priaku itu. Setelah mobil selesai dipanaskan oleh Amir, aku dan Kisno masuk ke dalam mobil menuju kantor dengan disupiri oleh Amir. Sepintas aku lihat ketika keluar rumah, Sudin dengan memegang rantai yang menyambungkan kedua jepitan pada kedua payudara Riyani sedang menarik Riyani ke atas menuju kamar tidur utama di lantai atas.
Kehidupan aku dan Riyani istriku sudah banyak berubah semenjak Riyani menjadi budak seks bossku sendiri. Aku masih bekerja di perusahaan Sanjaya , namun posisiku telah diangkat menjadi orang nomor dua di perusahaan itu menggantikan pejabat perusahaan sebelumnya yang sudah memasuki usia pensiun dan kembali ke Cina. Dengan posisiku yang baru, aku mendapatkan kenaikan gaji yang cukup signifikan belum lagi ditambah tunjangan-tunjangan yang melimpah. Seluruh kebutuhan rumah, termasuk gaji pembantu, gaji supir, biaya telepon dan juga biaya listrik sekarang ditanggung oleh perusahaan. Perusahaan juga menyediakan sebuah mobil Alphard sebagai mobil dinasku meskipun aku sudah mempunyai mobil sendiri. Amir dan Sudin sudah kupecat segera setelah kejadian di rumah beberapa waktu lalu dimana mereka telah menyetubuhi Riyani , sedangkan Bi Minah dan Mar telah pergi tanpa pamit meninggalkan rumah, mungkin karena tidak tahan dengan segala kebejatan yang terjadi di rumahku tersebut.
Sedangkan Riyani istriku nampaknya sudah pasrah menerima statusnya sebagai budak seks Sanjaya . Setelah kejadian di rumah beberapa waktu lalu, Sanjaya tidak pernah datang lagi ke rumah. Apabila Riyani dibutuhkan oleh Sanjaya , biasanya Kisno datang menjemput Riyani ke rumah, sedangkan aku tidak pernah ikut. Aku dan Riyani tidak pernah membicarakan apa yang dia lakukan bersama Sanjaya diluar rumah, namun dugaanku adalah Sanjaya pasti menyetubuhi Riyani dan menjadikan Riyani sarana pelampiasan nafsunya karena setiap pulang kembali ke rumah, Riyani selalu dalam keadaan yang sangat lelah dan biasanya langsung tertidur dalam waktu yang lama. Karena tidak pernah ikut dan tidak pernah membicarakannya dengan Riyani , aku tidak tahu secara persis apa yang dilakukan Sanjaya terhadap Riyani , kecuali ketika beberapa lalu Sanjaya tiba-tiba memanggilku ke ruangan kerjanya hanya untuk menunjukan kepadaku bahwa dia telah benar-benar menguasai istriku.
“Ah Harto, silahkan duduk” kata Sanjaya membuka pembicaraan sambil mempersilahkan aku duduk.
“Ada yang ingin saya perlihatkan kepadamu” lanjut Sanjaya setelah aku duduk di ruang kerjanya.
“Aku sudah memanggil istrimu untuk datang ke kantor, sekarang dia sedang menunggu di luar” kata Sanjaya lagi kepadaku.
Kemudian Sanjaya memanggil sekretarisnya dan meminta sekretarisnya untuk mengantarkan Riyani ke ruangan kerjanya. Tidak berapa lama kemudian Riyani istriku masuk ke ruangan kerja Sanjaya . Riyani datang dengan mengenakan jubah ungu muda dan jilbab ungu tua. Sangat cantik dan anggun. Sanjaya memerintahkan istriku untuk menutup dan mengunci pintu ruangan kerja Sanjaya yang langsung dituruti oleh Riyani .
“Riyani , buka seluruh bajumu kecuali jilbabmu, sampirkan aja ke pundak seperti biasanya. Saya mau melihat kamu telanjang bulat sekarang!” kata Sanjaya kepada Riyani dengan nada tegas.
Aku terus terang sedikit kaget dengan apa yang diperintahkan Sanjaya , apalagi sekarang Sanjaya , aku dan Riyani berada di kantor. Namun yang membuat aku lebih kaget lagi, ternyata istriku Riyani tanpa membantah dan tanpa rasa malu langsung menuruti perintah Sanjaya .
“Duduk dan menghadap ke suamimu!” perintah Sanjaya kemudian sambil menunjuk kursi kosong di hadapan kursi dimana aku duduk.
“Pelacur, mainkan vaginamu. Saya mau melihat kamu orgasme” perintah Sanjaya lagi kepada Riyani .
Aku sedikit tersinggung mendengar Sanjaya memanggil istriku pelacur, namun aku melihat tidak ada tanda-tanda kesal sama sekali di wajah Riyani , bahkan mendengar perintah Sanjaya , Riyani sambil menghadap ke diriku langsung membuka kedua kakinya lebar-lebar serta kemudian menaruh kedua kakinya tersebut di pegangan kursi dan tangan kanannya mulai memainkan vaginanya. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya mulai mengocok-ngocok vaginanya sendiri. Setelah beberapa menit, vagina Riyani mulai terlihat basah, napas Riyani mulai terdengar berat dan sesekali desahan-desahan kecil keluar dari mulut Riyani .
“Rasanya gimana pelacur? tanya Sanjaya kepada istriku.
“Enak tuan” jawab Riyani cepat sambil terengah-engah dan terus memainkan vaginanya sendiri.
“Ceritakan kepada suamimu apa saja yang telah saya lakukan kepadamu” perintah Sanjaya lagi kepada Riyani .
“Tuan Sanjaya menyetubuhiku, menjadikan diriku mainan seksnya” jawab Riyani tanpa malu-malu.
“Lubang mana saja yang sudah pernah saya pakai” tanya Sanjaya kepada Riyani .
“Semua lubang di tubuhku, vagina, lubang pantat dan mulut semuanya sudah pernah dipakai Tuan Sanjaya ” jawab istriku lagi.
“Dimana saja saya menyetubuhi kamu pelacur” lanjut Sanjaya .
“Di apartemen Tuan Sanjaya , di hotel, di villa di puncak, di toilet pria di restaurant, di mobil” jawab Riyani lagi sambil merintih-rintih kenikmatan karena permainan jarinya sendiri di vaginanya.
“Bagaimana saya menyetubuhi kamu” tanya Sanjaya lagi.
“Dengan berbagai macam gaya, dengan berbagai macam alat-alat seks….uuuggghhhh…..eeeiiii” jawab Riyani yang kemudian disusul dengan orgasmenya yang dahsyat.
Aku terkesima dengan apa yang terjadi dihadapanku. Riyani menjawab semua pertanyaan Sanjaya dan Riyani begitu cepatnya mengalami orgasme, seakan-akan Riyani menikmati keadaannya sebagai budak seks Sanjaya .
“Kamu suka disetubuhi oleh saya?” Tanya Sanjaya lagi kepada Riyani istriku.
“Suka…aku suka disetubuhi Tuan Sanjaya ” jawab Riyani sambil terus memainkan vaginanya karena belum diperintahkan untuk berhenti oleh Sanjaya .
“Kamu orgasme apabila disetubuhi oleh saya?” Tanya Sanjaya kemudian.
“Selalu, aku selalu orgasme beberapa kali ketika disetubuhi Tuan Sanjaya ” jawab Riyani lagi.
“Oke pelacur, sekarang pakai lagi bajumu dan minta Kisno antar kamu pulang ke rumah” perintah Sanjaya kepada Riyani .
Mendengar itu tanpa berkata-kata lagi, Riyani mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkan aku dan Sanjaya di ruangan kerja Sanjaya .
“Nah Harto, kamu sekarang melihat sendiri bahwa istrimu sudah benar-benar menuruti seluruh perintahku. Sekarang kamu konsentrasi saja dengan pekerjaanmu, untuk urusan istrimu biar saya yang memuaskan dia hahahahahha…..” kata Sanjaya kepadaku sambil menyuruhkan keluar dari ruangan kerjanya.
Begitulah kehidupan kami semenjak Riyani menjadi budak seks Sanjaya belakangan ini.
Waktu berjalan dengan cepat. Aku tidak menghitung lagi sudah berapa lama istriku menjadi budak seks Sanjaya atau sudah berapa kali Sanjaya memanggil istriku untuk melayaninya di luar rumah, sampai suatu ketika Sanjaya mengajakku ke daerah kota. Sanjaya ternyata mengajakku ke tempat pelacuran tingkat tinggi. Meskipun dari luar papan nama tempat itu tertulis sebagai tempat spa dan salon, namun ketika aku dan Sanjaya masuk terlihat sekali bahwa tempat itu bukanlah tempat spa atau salon saja. Ketika aku dan Sanjaya masuk ke tempat itu, kami disambut oleh seorang pria Cina berumur 60 tahunan yang nampaknya pemilik tempat itu. Pria itu rupanya sudah mengenal Sanjaya cukup lama. Pria yang dipanggil sebagai “Abah” itu mempersilahkan aku dan Sanjaya masuk ke ruang kerjanya di lantai dua tempat itu.
“Silahkan duduk. Oooh ini rupanya yang namanya Harto Suyanto yang sering kamu ceritakan Sanjaya” kata Abah kepada Sanjaya sambil mempersilahkan kami duduk di sofa ruang kantornya.
“Bagaimana? Kamu sudah ceritakan ke dia Sanjaya ?” tanya Abah kepada Sanjaya ketika kami sudah duduk di sofa.
“Belum” kata Sanjaya singkat.
“Bagaimana sih Sanjaya , masak langsung kamu ajak saja kesini tanpa kamu cerita dulu. Kalau dia menolak bagaimana?’ kata Abah lagi kepada Sanjaya .
“Apa ini? Apa yang belum diceritakan kepada saya?” tanyaku penasaran.
“Ok Harto, begini, saya sudah mendidik istrimu untuk menjadi budak seks saya. Sekarang kita harus ke tahap selanjutnya, yaitu melihat kepatuhanmu kepada saya dan kerelaanmu untuk menerima nasib bahwa istrimu adalah budak seks pria lain” kata Sanjaya membuka pembicaraan denganku.
“Maksudnya” tanyaku makin penasaran.
“Saya ingin agar kamu memerintahkan istrimu menjadi pelacur di tempat ini dari hari Jumat sampai hari Minggu ini. Menjadi satu-satunya pelacur yang berjilbab. Tentu istrimu akan segera menjadi primadona diantara sesama pelacur yang ada disini. Penampilannya yang cantik, anggun dan alim tapi liar dalam seks tentu akan menarik banyak pelanggan. Saya tahu kekuatiranmu, tapi please jangan dibantah dulu. Abah sudah menyiapkan kamar khusus buat istrimu. Kamar itu mempunyai cermin dua arah, sehingga meskipun istrimu tidak tahu, namun sebenarnya kamu tetap bisa mengawasi istrimu dari kamar sebelah. Saya yakin kamu bisa menikmati keadaanmu sebagai suami yang istrinya menjadi pelacur sebagaimana istrimu menikmati nasibnya menjadi budak seks” kata Sanjaya menjelaskan.
Sebelum aku bisa menjawab karena masih kaget, Sanjaya sudah melanjutkan kata-katanya lagi “Tujuan saya adalah saya ingin kamu bisa menerima dan menikmati keadaan istrimu. Saya yakin setelah melihat sendiri bagaimana istrimu dipermalukan dan harga dirinya ditekan sampai ke titik yang paling rendah yaitu dijadikan pelacur, kamu dapat menerima hal-hal lainnya yang menimpa istrimu. Ini semua untuk membantu kamu. Kalau kamu bisa menerima kenyataan ini, kamu tidak akan stress, bahkan mungkin kamu akan menjadi sangat bahagia atas kenyataan ini, toh pada dasarnya kamu memang ingin melihat istrimu disetubuhi pria lain, jadi kenapa tidak dinikmati saja”.
“Pilihan kamu sebenarnya sangat sederhana, kamu ikut menikmati atau kamu dan mertuamu melihat rekaman persetubuhan istrimu di internet. Saya banyak merekam hal-hal baru tentang persetubuhan istrimu yang bisa membuat mertuamu terkena serangan jantung lho” lanjut Sanjaya dengan tersenyum penuh arti.
Karena kuatir bahwa orang tua Riyani mengetahui apa yang terjadi pada Riyani dan juga karena entah kenapa membayangkan istriku melacurkan dirinya membuat diriku benar-benar sangat terangsang, sehingga tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menyatakan setuju. Wajah Abah terlihat sangat senang mendengar persetujuan dariku, dan Abah segera mengeluarkan beberapa carik kertas yang telah disiapkannya yang rupanya berupa kontrak. Aku hanya membaca sekilas kontrak itu, tapi antara lain bunyinya:
Aku secara sukarela menyerahkan Riyani kepada Abah selama hari Jumat sampai hari Minggu atau waktu-waktu lainnya sebagaimana disepakati olehku dan Abah;
Selama hari Jumat sampai hari Minggu tersebut, Riyani menjadi hak milik Abah, dan aku tidak bisa turut campur ataupun melakukan apa saja yang bisa mengganggu kepemilikan Abah terhadap Riyani ;
Aku hanya diperbolehkan menonton dari kamar sebelah, dan aku tidak boleh dilihat atau diketahui berada di tempat itu oleh Riyani maupun tamu-tamu Riyani ;
Uang yang didapatkan dari tamu-tamu Riyani menjadi milik Abah seluruhnya, kecuali atas tips yang diberikan tamu secara langsung kepada Riyani ; dan Abah harus mengembalikan Riyani ke rumahku sebelum jam 12 malam pada hari Minggu.

Begitulah kira-kira bunyi kontraknya, dan akupun segera menandatanganinya.
Setelah menandatangani kontrak tersebut, aku dan Sanjaya diajak berkeliling tempat itu. Abah menunjukan kamar dimana Riyani akan melayani tamu-tamunya. Kamar itu berukuran sedang dan dilengkapi kamar mandi sendiri. Seluruh dinding dan langit-langit kamar tersebut semuanya ditutupi oleh cermin, sedangkan kamar mandinya hanya salah satu dindingnya yang ditutupi oleh cermin. Kamar dan kamar mandi tersebut terlihat cukup mewah. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah tempat tidur king size yang mempunyai pilar-pilar kayu disetiap sudutnya. Di atas tempat tidur itu terdapat kasur tebal yang ditutupi sprei warna merah marun. Di sisi kiri dan kanan tempat tidur tersebut terdapat nakas (lemari kecil) dan di sisi bagian bawah kasur tersebut terdapat sebuah peti besar yang menyerupai peti bajak laut seperti yang biasa kita lihat di buku-buku cerita. Di kamar itu juga terdapat sebuah meja rias dengan kursinya dan sebuah single sofa berwarna krem.
Setelah dari kamar tersebut, Abah mengajakku dan Sanjaya ke kamar sebelah. Berbeda dari kamar yang sebelumnya, kamar sebelah ini lebih menyerupai sebuah ruang tamu yang mewah. Kamar tersebut mempunyai sofa-sofa yang disusun mengarah ke dinding pembatas antara kamar yang pertama ditunjukan oleh Abah dan kamar ini. Dinding tersebut ternyata adalah kaca dua arah, sehingga meskipun dari kamar pertama ataupun dari kamar mandinya dinding tersebut terlihat sebagai cermin, namun dari kamar sebelah aku dapat melihat kamar pertama yang ditunjukan oleh Abah beserta kamar mandinya secara jelas.
Kemudian Abah menjelaskan bahwa selama Riyani sedang melayani tamu-tamunya aku hanya boleh berada di kamar ini, apabila aku ingin keluar dari kamar ini harus keluar dari salah satu pintu yang langsung menyambung ke sebuah lorong dan tembus langsung ke restaurant di lantai bawah sehingga aku tidak melewati kamar sebelah. Abah juga mengingatkan kembali bahwa aku tidak boleh mengganggu tamu-tamunya. Abah menjelaskan bahwa tamu-tamunya telah membayar sangat mahal untuk mendapatkan kesenangan sehingga tamu-tamu tersebut dapat berbuat apa saja terhadap Riyani . Abah juga menambahkan bahwa Riyani tidak boleh tahu kalau aku bisa menontonnya dari kamar sebelah karena Abah sangat kuatir kalau Riyani sampai tahu aku bisa menontonnya maka Riyani tidak bisa lepas dan merasa bebas dalam melakukan pelayanan terhadap tamu-tamunya. Terakhir Abah juga memberitahu bahwa Riyani pastilah akan sangat sibuk, karena apabila terdapat wanita baru pasti kabar tersiar dengan cepat dan akan banyak tamu-tamu yang ingin mencoba Riyani .
Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Abah, dan setelah berkeliling tempat itu, termasuk melihat sebuah ruangan yang dikatakan oleh Abah sebagai display room, aku dan Sanjaya pamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Sanjaya kembali mengingatkanku agar memberitahu dan memerintahkan Riyani untuk melaksanakan hal ini dan juga mengingatkanku agar Riyani tidak boleh mengetahui kalau aku bisa menonton pelacuran dirinya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, hatiku berkecamuk memikirkan apakah yang aku lakukan ini benar. Di satu pihak aku tidak bisa membayangkan apabila orang tua Riyani sampai mengetahui nasib anaknya, namun di pihak lain meskipun aku tahu bahwa melacurkan istriku adalah salah namun terdapat rangsangan tersendiri bagiku melihat istriku disetubuhi orang lain. Apakah benar aku bisa benar-benar menikmati keadaan istriku yang menjadi budak seks orang lain?
Bagaimana sebenarnya perasaaan Riyani ? Apakah Riyani bisa menerima nasibnya? Dan banyak pertanyaan lain berkecamuk di hatiku. Tidak terasa mobil yang aku kemudikan sudah sampai rumah. Mobil langsung aku masukkan dalam garasi dan aku segera mencari Riyani . Riyani sedang duduk di sofa menonton TV ketika aku hampiri. Aku duduk di sofa di sebelahnya, dan segera memberitahukan kepada Riyani tentang apa yang diperintahkan Sanjaya untuk dirinya selama hari Jumat sampai hari Minggu ini. Sama sekali diluar dugaanku, Riyani tidak terlihat kaget. Riyani hanya menghela napas panjang sambil berkata pelan “Sudah kuduga”.
Melihat reaksi Riyani yang tidak kaget aku bertanya kepadanya “maksudmu sudah kamu duga?”
Kemudian Riyani menceritakan bahwa setelah kejadian beberapa waktu lalu di rumah dimana dia disetubuhi oleh Kisno, Amir dan Sudin, Sanjaya tidak pernah lagi membagi dirinya untuk orang lain, namun Sanjaya selalu berkata bahwa Sanjaya ingin memuaskan dirinya dulu sebelum membagi Riyani ke semua orang. Sanjaya juga beberapa kali berkata kepada Riyani bahwa Sanjaya akan menempatkan Riyani pada status yang sebenarnya bagi Riyani yaitu sebagai pelacur. Sanjaya berkali-kali berkata kepada Riyani bahwa Riyani hanyalah seorang pelacur dan suatu saat Riyani akan senang disetubuhi pria yang telah membayar kepada germonya. Aku sedih melihat Riyani bisa menerima nasibnya, bahkan ketika tahu akan dijadikan pelacur, reaksinya meskipun terlihat tidak senang namun juga tidak menolak atau kaget.
“Maafkan aku” hanya itu kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Ini semua terjadi bukan hanya salah kamu saja, ini juga karena kesalahanku” kata Riyani setelah mendengar permintaan maaf dariku.
Kemudian entah hanya karena ingin menghiburku atau memang dari hatinya, Riyani melanjutkan
“Sebenarnya aku ingin jujur sama kamu mas Harto. Entah apa yang terjadi pada diriku, kejadian ini seakan-akan membuka kotak pandora dari dalam diriku. Entah kenapa aku mulai menyukai dijadikan budak seks, aku menyukai diperlakukan kasar dalam berhubungan seks. Memang sebenarnya aku lebih ingin kalau kamu yang melakukannya kepadaku, namun apa yang sudah dilakukan oleh Sanjaya terhadap diriku telah merubah total diriku. Apabila Sanjaya memanggilku untuk melayaninya, dalam perjalanan menuju apartemen Sanjaya saja vaginaku sudah menjadi basah dan ketika Sanjaya memakai diriku sebagai mainan seksnya aku menikmatinya yang membuat diriku orgasme berkali-kali dengan sangat cepat.
“Ketika kamu menceritakan bahwa Sanjaya memintaku jadi pelacur, meskipun sebenarnya aku tidak suka, tapi mendengar hal itu membuat vaginaku saat ini sangat basah. Entah kenapa meskipun tahu bahwa menjadi pelacur adalah pekerjaan yang martabatnya sangat rendah, namun di dalam hatiku aku jadi ingin mencobanya” lanjut Riyani kepadaku.
“Aku membaca di internet, memang banyak orang seperti diriku, yaitu menjadi submissive, dimana penindasan dalam seks malah membuat terangsang dan menikmati. Namun mas, aku sangat mencintaimu, aku masih berharap suatu ketika semua ini akan berakhir dan aku hanya perlu menjadi submissive untuk dirimu saja” kata Riyani kemudian kepadaku.
Mendengar hal itu, hatiku menjadi sedikit tenang. Setidaknya Riyani akan melakukan hal ini bukan karena terpaksa, dan Riyani masih sangat mencintaiku. Kamipun berciuman mesra, dan aku berpesan kepadanya untuk banyak istirahat karena hari Jumat yang direncanakan tersebut tinggal 2 hari lagi.
Hari jumat itu akhirnya datang juga….Tepat pukul 9.00 pagi kami berangkat dari rumah menuju tempat Abah yaitu XXX Spa & salon di daerah kota. Hari itu Riyani berpakaian agak lain, mengenakan jubah cocklat berbahan lemas/jatuh sehingga seluruh lekukan tubuhnya yang indah terlihat jelas, terutama bagian puting payudaranya. Jilbab putih tersampir di pundak. Tampak sabgat cantik.

https://www.malayxxx.net/video/215/video-porno-malaysian-cewek-jilbab-tudung-2023

Perjalanan dari rumah menuju tempat Abah memakan waktu cukup lama, apalagi Jakarta di pagi hari selalu macet. Dalam perjalanan aku beberapa kali menanyakan Riyani apakah dia yakin dengan apa yang akan dilakukannya, dan selalu dijawabnya dengan senyum manis sambil berkata bahwa dia yakin untuk melakukannya meskipun sebenarnya dia berkeinginan agar aku dapat mendampinginya untuk menjaganya. Mendengar keinginannya tersebut aku hanya menjawab bahwa aku banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan di kantor, dan aku meyakinkannya bahwa Abah akan dapat menjaganya serta aku berjanji bahwa aku akan selalu menelepon Abah untuk menanyakan keadaan istriku ini. Setibanya aku dan Riyani ditempat Abah, Aku dan Riyani bergandengan tangan memasuki tempat milik Abah tersebut. Melihat kami datang, Abah menyambut kami. Tanpa berkata apa-apa, Abah langsung menggandeng tangan Riyani dan menuntunnya masuk. Ketika aku berusaha mengikuti, Abah dengan sopan mengatakan kepadaku “Kamu antar sampai sini saja, nanti istrimu jadi grogi”.
Akupun melepaskan gandengan tanganku pada Riyani dan membiarkan Abah menuntun Riyani masuk ke dalam. Aku melihat beberapa kali Riyani menoleh ke belakang melihat diriku seakan-akan Riyani ragu dengan apa yang akan dilakukannya, namun karena Abah tetap menuntunnya masuk ke dalam, Riyani tidak dapat berpikir panjang lagi dan hanya bisa menuruti gandengan tangan Abah. Setelah menyerahkan Riyani kepada Abah, akupun berlari ke arah belakang tempat milik Abah itu dan masuk kembali melalui pintu belakang. Begitu kembali di dalam aku mengintip Riyani berbicara dengan Abah. Aku tidak mendengar pembicaraan mereka. Setelah beberapa menit berbicara, Abah dengan menggandeng lengan Riyani menuntun Riyani masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Kurang lebih satu jam Abah dan Riyani berada di ruang kerja Abah, sampai kemudian pintu ruang kerja tersebut terbuka dan terlihat Abah dan Riyani keluar secara bersamaan. Jilbab putih Riyani ketika keluar ruangan terlihat sedikit acak-acakan, aku menduga pasti Abah baru saja menyetubuhi Riyani di dalam ruang kerja tersebut.
Kemudian Abah memanggil dua staff wanitanya yang biasa dipanggil “mami” dan menyerahkan Riyani kepada mereka. Kedua mami itu kemudian menuntun Riyani ke kamar yang 2 hari lalu telah ditunjukan Abah kepadaku dan Sanjaya . Setelah Riyani dan kedua mami masuk kamar tersebut, aku mendatangi Abah. Abah hanya berkomentar “Hebat istrimu, tamu-tamuku pasti puas” dan kemudian mempersilahkan aku masuk ke kamar disebelah kamar dimana Riyani berada.
Segala kisah, lokasi, nama yang tertulis didalam blog ini adalah rekaan imiginasi penulis semata-mata, tiada kena mengena kepada sesiapa samada yang masih hidup ataupun yang telah meninggal dunia.

Budak seks bos 3 | admin | 4.5